Aku selalu menuntut hal yang bahkan tidak bisa
dikerjakan. Bahkan sampai dimana orang lain membubuhiku dengan kalimat “ You’re
one with everything that never happens”. Miris bukan, apa yang mereka miliki tak pantas aku miliki?
Bukan, jangan salah sangka. Aku tidak berniat untuk merebut.
Mereka membenciku, benar. Sahabatku Aline berusaha
mendekati teman kecilku Dito, aku tidak merasa iri dengan perasaan Aline, yang
aku idamkan dari Aline adalah kepintarannya di berbagai bidang. Sebenarnya aku
sudah mengetahui perasaan Aline kepada Dito, mungkin tiga bulan kebelakang. Tak
perlu menebak-nebak, dari gelagatnya saja sudah terlihat, untuk brownies yang ia
buat hampir satu minggu sekali, susu kotak yang selalu Aline berikan padanya
sudah menjadi bukti yang kuat atas perasaannya.
Ketika aku dan Dito sedang bercanda di gedung
teater, Aline memperhatikan kami dengan wajah jengkel. Seharusnya ia memaklumi
hal tersebut, Dito adalah temanku dari bangku SD. Kami memiliki tempat duduk
favorit di gedung teater yaitu di pojok belakang sebelah kanan, kami sering
bersepeda di hari minggu pagi, kami senang makan soto ayam di pinggir sekolah.
Tatapan mata Aline menghardik perlakuanku terhadap Dito dan bahkan akupun tidak
yakin apa yang dirasakan oleh Dito sama dengan apa yang dirasakan oleh Aline.
Sahabatku memang tidak hanya Aline, tetapi Aline yang paling dekat denganku. Terkadang aku berpikir untuk menjauhi Dito demi Aline, aku juga sudah memiliki tambatan hati, Aline sama sekali tidak mengerti. Nandita, Rina, Danaya dan Arista membantu untuk menenangkan hati Aline, semakin sini mereka bukan malah membuat hubungan kami membaik tetapi malah larut dengan suasana. Bahkan yang sangat menjengkelkan mereka sampai membuka pesan singkat yang ada di telepon genggamku, aku pikir tidak akan terjadi apa-apa, ternyata aku salah. Mereka semakin percaya bahwa aku akan mengambil Dito dari Aline, dengan membaca tulisan pesan di telepon genggamku saja. Sungguh benar aku sangat terpuruk, tak punya keberanian untuk menjelaskan semua yang terjadi kepada kekasihku, yang sama-sama tidak tau akan hal yang terjadi.
Sahabatku memang tidak hanya Aline, tetapi Aline yang paling dekat denganku. Terkadang aku berpikir untuk menjauhi Dito demi Aline, aku juga sudah memiliki tambatan hati, Aline sama sekali tidak mengerti. Nandita, Rina, Danaya dan Arista membantu untuk menenangkan hati Aline, semakin sini mereka bukan malah membuat hubungan kami membaik tetapi malah larut dengan suasana. Bahkan yang sangat menjengkelkan mereka sampai membuka pesan singkat yang ada di telepon genggamku, aku pikir tidak akan terjadi apa-apa, ternyata aku salah. Mereka semakin percaya bahwa aku akan mengambil Dito dari Aline, dengan membaca tulisan pesan di telepon genggamku saja. Sungguh benar aku sangat terpuruk, tak punya keberanian untuk menjelaskan semua yang terjadi kepada kekasihku, yang sama-sama tidak tau akan hal yang terjadi.
Dito terlampau nyaman bersamaku, mau bagaimana
lagi? Kami sudah berbagi cerita dari waktu ke waktu. Sahabat-sahabatku nampak
terlampau kecewa dengan perlakuanku, meskipun aku ini payah dalam mengungkapkan
semua yang ada dalam otak, bukan berarti mereka bisa berpikiran keji seperti
itu tentang aku. Aku juga sudah mengingatkan Dito untuk berjaga jarak, tapi dia
acuh seakan tidak mau tau dengan perang dingin yang sedang aku lalui. Hei aku
bukan jalang, hatimu saja yang brengsek tidak bisa melihat posisiku pada sudut
yang berbeda.
Apa kau tidak ingat Aline? Bagaimana caraku untuk
membujuk Dito agar mau menjemputmu? Aku berpura-pura sakit agar kau bisa
bersamanya hanya untuk sebuah kejadian yang palsu. Masihkah aku salah atas
keinginan untuk mendekatkan kalian? Ya.. benar, mungkin aku salah, membiarkan
Dito bersamamu atas semua kebohongan yang aku cari-cari dan mengirimnya melalui
pesan singkat di telepon genggam. Nadanya memelas Aline, jika dibacakan bukan merajuk, aku pantang
melakukan itu kepada orang lain bahkan kepada Dito.
Mengapa seketika emosimu terpancing ketika aku
memergokimu sedang membaca pesanku dengan Dito? Aku terbiasa bercanda dengannya
setiap waktu, seriuspun bisa dijadikan bahan lawakan. Apa kau tidak malu jika
semua orang melihat wajahmu geram karena sebuah kesalah pahaman? Aku sayang
padamu Aline. Rasa kecewa tidak sebesar rasa sayangku kepadamu. Biar aku
ingatkan kembali hangatnya genggaman tanganmu ketika kita berjalan menyusuri
gang untuk pulang, berbagi cerita satu sama lain sambil membeli surabi oncom
dekat sekolah, saling tidak mau kehilangan pandangan ketika kita harus berpisah
di blok perumahan yang berbeda. Setiap langkah kita menjauh aku tidak segan
untuk melambaikan tangan sambil tersenyum, aku benar-benar tidak sanggup jika
persahabatan sirna hanya karena pesan singkat berisikan canda yang kau baca.
Aku bercerita dan bertanya pada Ibu, singkat Ibu
menjawab “ Karena tulisan itu tidak bernada, akan berbeda jika candannya saat
kalian bertatap muka, pasti nada candanya ketauan”.
Komentar
Posting Komentar