part 1
1 September 2014, aku pergi ke kampus tercinta dengan berat
dusta yang besar. Pagi itu Ayah bertanya padaku. "Sal.. laptop kamu pake
ngga?" aku jawab saja tidak, karena memang tidak. " Tolong ambilkan,
Ayah mau pake buat pelatihan di kantor sampe minggu depan, jangan lupa sama
tasnya ya.." Aku tergesa-gesa menyiapkan apa yang ayah inginkan.
"Kamu simpan saja diatas meja nanti Ayah yang rapikan,
kamu pergi kuliah saja cepat Teteh nunggu." Pukul 06.30 kami baru
berangkat menuju kampus. That
was too late!! biasanya
memang Aku yang mengendarai sepeda motornya.
"Sal bawa motor yang bener dong!! berapa kali kamu mau
nabrak motor? Orang yang jalan juga mau kamu srempet?"
"Ini telat!! tau kali Dosen galak semua. Aku ngga mau
kena SP kaya kamu Dey"
"Gils tar
kalo ada apa-apa baru nyesel lo."
Aku menancap gas, laju sepeda motor kali ini benar-benar
kencang. Jalanan Bandung sudah mulai padat menggoda diriku untuk memacu lebih
cepat.
"Tuh liat.. parkiran penuhkan, mau ditaro dimana ini
motor?"
"Jidatmuuuuu..."
Deya kakakku pergi meninggalkan aku yang masih dengan
kebingungan entah akan parkir dimana sepeda motor kami.
"Weyhaha... lu mau gituan ke kelas?" rasanya
tidak bisa tertahan bibirku untuk menertawakan kaka yang bertindak konyol
"Apa? gitu gimana sih? udah ah telat"
"Woy helm iku lepas keles hahaha"
"Ouh sh*t.."
Hahaha... tak
sadar ternyata jam telah menujukkan pukul 06.50. Hih telat jugakan, nyusahin
banget memang. Gedung kelas terasa sangat jauh dari area parkir, Aku panik..
aku bergegas.. dan aku berlari. Sebagai mahasiswa baru dituntut untuk
membiasakan diri. Jika pada saat SMA kita mendapatkan kelas yang tetap, tapi
itu semua tidak terjadi di perguruan tinggi, khususnya bagi anak-anak
Politeknik. Seperti aku dan kakakku, kami dikejar oleh waktu, tidak bisa lulus
cepat, masuk pukul 07.00 dan keluar pukul 16.00 bahkan bisa lebih dari itu,
maka bayangkan sistim pembelajaran apa yang kami dapat.
"Sal mana aja kamu? jam segini baru dateng?" Aku
dihampiri oleh Fiqal teman sekelas.
Aku terdiam dan hanya menatap wajahnya tanpa kedip untuk
beberapa saat.
"Hei.. kamu kok bengong? sakit ya? muka kam pucet tuh
Sal." Nada suaranya sangat ramah tidak menghilangkan aura laki-lakinya. Dia
memegang keningku dengan lembut.
"Kamu sakit deh Sal kayaknya, soalnya muka kamu pucet,
mata berkantung lagi. Kenapa masih maksain kuliah sih? Bisa izin ini." Dia
belum menarik tangan kanannya dari keningku, aku hanya tersenyum menatap tampan
wajah Fiqal. Seketika aku tersadar mataku terbelalak dan melepaskan tangan
Fiqal dari keningku.
"Ehmmm ngga ko Qal, aku.. a+ku ngga apa-apa cuma ngga
enak badan aja ih santai"
"Yaudah kelas bareng yuk"
"Mmmm.. yaudah yuuk"
Aku tidak peduli lagi seberapa lama kita berjalan, secepat
apa waktu yang telah terurai dan entah dosen sudah masuk ke kelas atau belum.. DOSEN?!!
"Qal kayaknya kita harus cepet deh udah jam segini tar
Pak Margono keburu dateng. Kamu mau kita nunggu di luar gara-gara telat?"
"Iya..iya.."
Fiqal tersenyum padaku dan menarik tanganku. Aku kira hal
yang romantis hanya ada di film drama korea saja. "Ayo dong.. katanya
harus cepet" dia menoleh dengan wajah yang tenang sambil menggenggam
tangan dengan kuat.
"Handphone baterainya low lagi. Ta.. kamu bawa charger ga? Ta? Talia!!!!"
"Ehh.. iya Sal ya? Maaf hee.. lagi denger lagu pake headset"
"Heeuuuu, bawa gak?"
"Bawa? bawa apaa yak? hehe"
" Charger ilaaahhh
torek bener"
" Oh iya nih santai aja keleeesssss hahaha" Talia
gadis cantik ini adalah teman satu kelas dan teman satu meja tepatnya.
"Sut heeh Pak Margono dateng"
Suasana kelas mendadak senyap. Kreeeeekkkk.... pintu
terbuka. Hah! Pak Margono Dosen killer itu,
kacamata yang selalu menggantung di lehernya. Kemeja kotak-kotak selalu menjadi
andalan, tidak lupa celana cutbray yang
senantiasa melengkapi pakaian hariannya. Aku melihat halisnya mengerut dan
matanya menyipit. Ada apa ya Pak? terlihat heran wajah kami semua.
"Baiklah kawan kita mulai pertemuan diawali dengan
pengumpulan tugas dan buku catatan"
Talia berbisik "apa-apaan baru juga pertemuan kedua
buku sudah dikumpulkan lagi, mau liat apa coba?"
"Yaudah kumpulin aja Ta"
Mata kuliah ini terasa sangat lama, kelas sudah tidak
kondusif banak diantaranya yang berpura-pura bangun padahal tidak mampu melawan
rasa kantuk, demikian dengan aku. "Haha kamu lucu Ta kalo lagi manggut
ngantuk gitu." Selang beberapa waktu singkat handphoneku tidak berenti
bergetar. Hih ada apa ini? saat aku periksa banyak sekali notifikasi dari
berbagai media sosial. "Hemm payah sekali ruangan ini dari tadi masa baru
dapet sinyal"
"Ya semuanya sekian dari saya semoga hari ini
bermanfaat, aamiin.. untuk tugas kirim lewat e-mail saja.
Selamat siang"
"SIANG PAK.."
"Sekarang mau kemana? Kelas lagi abis
istirahatkan?"
"Pujasera aja!! pujas gerak cepat perut lapar Sal"
"Lapar mulu sih Ta hahha"
"Biasa anak kost-an huuuft"
"Hih sebenernya mana mau ke pujasera. Deya aja
pernah diare gara-gara makan disana" Ujarku dalam hati. Terpaksa aku ikut
bersama teman-teman, memang varian menu di pujasera sangat beragam dan menarik
tapi untuk masalah kebersihan.. huuh geleng-geleng kepala. Sepiring nasi goreng
keju diterhidang di depan mata. Mengingat harus minum obat tak apalah aku sikat
saja nasi goreng yang entah bersih atau tidak ini. Hmmm enak, satu sendok.. dua
sendok sampai habis. Belum lagi coffeeblend yang menggoda kerongkongan yang
kering ini.
"Bi semuanya berapa?"
"Sama minum ya mba?"
Saat aku membukan dompet, ternyata hanya sisa 20ribu lagi.
"Mati aku kalo uangnya kurang". Bibi yang sedang menghitung biaya makan membuat aku semakin tegang.
"Mati aku kalo uangnya kurang". Bibi yang sedang menghitung biaya makan membuat aku semakin tegang.
"Semuanya jadi 12ribu mba"
What?!! minuman
sebanyak itu, nasi goreng porsi untuk tukang gali itu dipatok harga
semurah itu? Gilagilagilaaa...
"12ribu mba"
"Oh iya ini uangnya"
Sembari jalan aku menghitung ulang berapa seharusnya harga
sekali makanku tadi.
"Hayu Sal napa diem gitu deh?"
"Makanan disini tu emang murah ya Ta??"
"Iya memang standarnya segitukan?"
"Gils tapi murah banget coy masa 12rebu"
"Yaudah sih, si Bibi ngerti keuangan anak kost
kali"
Bukannya membaik sepertinya demam tidak mau hilang dari
badan, sangat lemas dan mata ini tidak kuat lagi untuk tetap terjaga. Tatapanku
lalu diarahkan ke handphone yang bergetar. Terlalu banyak
pesan tidak penting disini, kemudian aku hapus satu demi satu pesan yang sudah
lampau. Aku terdiam sejenak. Jam 09.13 message
recieved from "My Dad". Pesan dari Ayah? untuk apa. Aku lekas
membuka pesan itu dan seketika aku tertegun tak bergerak.
"Sal kenapa Laptop ngga bisa di charge?" Aku
pura-pura tidak membaca pesan dari ayah. Aku lanjutkan kelas hingga sore tiba.
"Sal kerjain bareng tugas presentasi yu!" Setelah
membaca pesan dari ayah, aku merasa sangat ketakutan. Mengingat apa yang
terjadi beberapa waktu kebelakang. Ayah dan aku sering kali bertengkar, karena
ulahku, Ibu juga sering marah tetapi kembali karena ulah diriku. Hati selalu berbisik
itu bukan perkara besar makanya selalu tenang hati.
"Sal!! kamu kenapa sih ga semangat gitu? masih ngga
enak badan?"
"Iya nih Ne.. ngga tau kenapa wajah juga kerasanya
panas dan gatal"
"Ihh.. ayo ke kost-an aku sekalian istirahat"
"Iya deh si Tata ikut juga ini"
Kami berjalan menuju kediaman Ine yang tidak jauh dari
kampus, setiap langkah terisi kecemasan hati. Aku ingin pura-pura lupa. Dan
yakin aku akan melupakan pesan yang ayah kirim tadi pagi. Kami semakin
mempercepat langkah, apadaya kaki tak sanggup terlalu cepat menyusuri jalanan
yang kering. Bandung terasa agak panas saat ini.
"Maaf berantakan aku ngga sempet bersih-bersih"
"Santai aja kali Ne, orang kost-an aku bisa lebih
berantakan dari ini." Seleneh Tata
"Sal, kamu UKM ga hari ini?"
"Ih iya lupa hari ini UKM, ada acara hari ini"
"Acara sama siapa?"
"Sama temen doang kok nonton"
Satu jam berlalu. Aku menghela nafas, bertanya-tanya dalam
hati. Apa yang hendak terjadi malam nanti. Tidak lama dari itu temanku
menghubungi. "Kita ketemu di teaternya langsung aja, aku mau ambil helm
untuk antar kamu pulang." Dengan kondisi yang belum membaik,
bergegas menuju pangkalan ojek. Jarak antara kampus dengan tempat kami bertemu
tidaklah jauh. Ada pesan.
"Hei, kamu dimana? Aku sudah di lobby"
"Iya sebentar lagi, lagi naik ojek ini"
"Sudah dimana?" Dia membalas dan begitu
seterusnya
"Udah di depan sabar ya.."
"Ayo kebelet nih"
Tangga-tangga lobby teater sudah mulai terlihat. Dengan
nafas terengah-engah bergegas Aku menemuinya. Wajah terkerut menandakan ia sedang
kesal, aku tau setiap dentingan jarum jam ketika sedang menunggu akan terasa
lebih lama. Terbersit dalam hati yang menyetujui perkara menunggu. Nikmati saja kegiatan menunggu ini, toh yang kamu tunggu akhirnya datang
juga. Aku bukan si pemberi harapan palsu.
"Hai.. lama nunggu ga?"
"Heiii Sal, ngga ko ngga." terbersit senyum getir
di wajahnya, tapi dia tetap gagah dengan kulit sawo matangnya. Beberapa waktu
silam aku pernah mengaguminya, sangat-sangat mengaguminya. Tapi sayang tambatan
hati telah mengisi kekosongan "teman"ku ini.
"Udah beli tiketnya? nonton jam berapa?." Tuturku
halus mengalihkan pandangan laki-laki itu dari handphonenya.
"Jam setengah tujuh ngga apakan Sal? Tar aku anter
kamu pulang ko."
"Iya ngga apa-apa hehe." Dia mengusap rambutku
dengan lembut
"Kamu ini.. aku kangen Sal."
Saat aku dan dia hanya berjarak sekian meter membuat
atmosfer di gedung teater menjadi lebih panas atau demamku yang semakin
meningkat?
"Emhhh aku ke toliet dulu sebentar"
Ah, sudahlah perasaan ini tidak boleh kembali lagi. Tepat
berdiri di depan kaca, mata ini terlihat sangat merah dan terdapat
bintik-bintik merah muda yang hendak mucul di sekitar wajah. Tidak salah lagi
aku benar-benar demam. Waktu berjalan, sudah pukul 18.30. Aku mendengar
sayup-sayup suara petugas untuk segera memasuki teater.
"Sal cepat..."
Semilir angin yang dihembuskan dari mendingin ruangan cukup
membuat kondisinya lebih buruk lagi. Aku tidak bisa lagi duduk berjauhan, dia
lalu merangkul dan menatap.
"Kamu kedinginan?" Melihat dia begitu perhatian
membuat aku hanya bisa mengangguk.
Sudah pukul 20.30, aku dintar pulang tepat di depan rumah.
"Makasih ya kamu hati-hati, maaf kamu jadi
kerepotan"
"With my pleasure sweet. Santai aja, tos
dulu dong." Dia menarik tangan dan mengecup keningku, detak jantung yang
terus terpompa dahsyat. Aku pasrah tidak ingin melirik mata bulatnya.
"Good Night.. see you Sal." Hingga deru sepeda
motornya tidak lagi menyelusup telinga. Hingga bayangan hilang tak berbekas.
Helaan napas begitu panjang ketika aku sudah ada dalam rumah. Pria yang tak
mampu lagi aku tatap sudah berada di kursi ruang keluarga. Aku menatap pria
itu, begitu juga pria itu serius menatapku.
"Sal.. kamu baca pesan ayah tadi pagi ga?"
"Pesan? hp aku mati yah baterainya habis"
Pria itu terdiam begitu juga aku. Detik itu, seolah-olah
aktivitas waktu seluruhnya terhenti. Aku sigap memasuki kamar yang pintunya
agak sedikit terbuka.
Kreeeekkk!
Pintu ditutup. Sekali lagi aku terdiam. Aku habis akal.
"Teteeeeeeeeeehhhh!!" Adikku langsung mebuka
pintu kamar tanpa izin.
"Dipanggil ayah tu"
"Iya sebentar kan tadi di suruh liat pesan dari
ayah"
Dengan langkah yang lelah, Aku berjalan menuju ruang
keluarga. Gagang pintu tersentuh olehku dengan cemas. Dengan gerakan kecil, aku
berbalik badan sambil menatap wajah ayah. Pandangannya mengarah tepat pada mata
merah ini. Raut wajahnya terlihat menatap tajam pedang yang baru selesai
diasah.
"Sal kenapa laptop ayah jadi begini? ngga bisa diisi
baterainya" Suara ayah tegas terdengar dua kali lebih keras. Sosok Ibu
menyelinap masuk dari balik pintu kamar.
"Kamu darimana kemana aja? kenapa jam segini baru
pulang?"
"Tadi aku ngerjain tugas presentasi di kost-an Ine
yah.."
"Terus kenapa itu laptop ngga bisa di charge? Kenapa
kamu buat seperti itu?" Nada bicaranya sudah tidak bersahabat lagi.
Semakin lama jantungku semakin berdegup, kepala terasa pusing seperti dipukuli
oleh pentungan ronda.
"Ibu mau nanya deh, kemana selama ini laptop ayah?
Kenapa baru ada sekarang? kalo ngga ditagih mungkin ga di bawa pulang
juga"
"Iya aku pinjemin ke temen soalnya waktu ada
demonstrasi ekstrakulikuler ngga ada laptop jadi aku pinjemin."
"Apa selama itu Sal?" Ayah memotong penjelasan
"Iya gini yah, udah abis dipinjem gitu. Aku sama temen
di kampus bikin project stiker angkatan gitu dan bikinnya
lama soalnya ada beda-beda versi gitu."
"Ya terus kenapa bisa gini laptopnya?" Ayah
menjejali dengan pertanyaan yang sulit dijawab.
"Ibu heran ya sama kamu, kamu memilih laptop dipinjem
oleh teman berbulan-bulan sedangkan ayah pinjam baru satu hari sudah kamu
tagih-tagih? Berarti kamu butuh laptop itukan"
"Iya jadi laptopnya rusak gara-gara sering di cabut
baterainnya sengaja yah"
"Ga mungkin baru-baru ini kejadiannya, mana sini
kontak teman kamu itu ayah mau ngomong sama dia, gimana ini kejadiannya"
Tanggapan yang menusuk itu mengunci bibir. Aku tertunduk di sofa.
"Ngga yah bukan salah dia, emang salah aku ko."
Ayah terdiam sejenak lalu duduk di sebelah Ibu. Kalimat
tersusun lebih lugas. Suara Ibu tiba-tiba melemah.
"Mata kamu kenapa merah?"
"Aku sakit bu demaaam..." Nada bicara kunaikan
sedikit untuk mempertegas keadaan.
"Terserah kamu, udah sana bebersih istirahat besok
kamu kuliah." Ayah yang kelewat emosi, suarana kini bergetar.
Sebagai anak kadang ngga sadar seberapa besar pengorbanan
orang tua dan seberapa sering orang tua memikirkan masa depan kita. Bahkan
sering kali ayah dan ibu bertengkar memperdebatkan ulahku. Aku merasa lega.
Mereka berdiam sesaat dan bedialog tanpa aku. Ayah membiarkan akumeninggalkan
ruang keluarga untuk beristirahat di kamar. Menghempaskan diri ke kasur
sempitku dan membenarkan posisi bantal kepala. Selimut yang awalnya jauh dari
tubuhku ditarik secara perlahan. Tubuhku terasa berat, menyamping ke kiri dan
ke kanan tidak ada satupun posisi yang nyaman. Tak sengaja aku menatap handphone diatas meja.
Tubuh tak berdaya untuk mengangkat dan berjalan ke arah meja, sekejap ingin aku
terlelap dan membuang beban sakit seharian tadi.
Tiiiiiiddddd!!..
Kakaku datang, aku tidak peduli yang terpenting aku bisa
istirahat. Tak terdengar suara hentakkan kaki Deya, mungkin ia sedang berkumpul
di ruang keluarga. Teeeeeehhhh!!! Adikku masuk tanpa mengetuk pintu.
"Apa lagi de?" Ucapanku membuat adikku terdiam.
"Itu dipanggil ayah dulu bentar" bukankah perkara
tadi sudah usai.
To be continue
Komentar
Posting Komentar